Mereka Yang Berteduh di Bawah Jembatan
Dingin menusuk hingga ke tulang, aku meringis kala mendengar rintihan pilu dari laki-laki dengan tubuh kecil yang laksamana tak pernah makan sedari dua hari lalu. Wajahnya pucat, mungkin karena angin malam yang tak mau berteman dengan kami? Entahlah, siapa yang peduli. "Bersabarlah.. mungkin hari ini akan ada prajurit dalam yang menemukan kita.. kita, hanya perlu menunggu." ujar ku, menguatkan laki-laki di samping ku yang berstatus sebagai adik ku. Empat hari berjalan luntang-lantung kesana-kemari mencari bala bantuan sekaligus lari dari kejaran para bedebah sialan tak berperikemanusiaan itu bukanlah hal yang bisa dibayar hanya dengan terima kasih atau uang, tapi lebih. Aku dan adikku adalah seorang miskin dengan pekerjaan serabutan. Ada pekerjaan, kami laksanakan, yang terpenting dalam otak kami adalah makan, dan bertahan hidup, minimal sampai kami jadi juragan rempah-rempah. Hahahaha. Sore itu, kami bertemu dengan orang asing dengan wajah penuh keringat, tangannya me...