Postingan

Mereka Yang Berteduh di Bawah Jembatan

Dingin menusuk hingga ke tulang, aku meringis kala mendengar rintihan pilu dari laki-laki dengan tubuh kecil yang laksamana tak pernah makan sedari dua hari lalu. Wajahnya pucat, mungkin karena angin malam yang tak mau berteman dengan kami? Entahlah, siapa yang peduli.  "Bersabarlah.. mungkin hari ini akan ada prajurit dalam yang menemukan kita.. kita, hanya perlu menunggu." ujar ku, menguatkan laki-laki di samping ku yang berstatus sebagai adik ku.  Empat hari berjalan luntang-lantung kesana-kemari mencari bala bantuan sekaligus lari dari kejaran para bedebah sialan tak berperikemanusiaan itu bukanlah hal yang bisa dibayar hanya dengan terima kasih atau uang, tapi lebih. Aku dan adikku adalah seorang miskin dengan pekerjaan serabutan. Ada pekerjaan, kami laksanakan, yang terpenting dalam otak kami adalah makan, dan bertahan hidup, minimal sampai kami jadi juragan rempah-rempah. Hahahaha.  Sore itu, kami bertemu dengan orang asing dengan wajah penuh keringat, tangannya me...

Aku Tidak Tahu Ini Akan Terjadi

Siang panas menyengat, aku menatap setiap sudut kota.  Ramai. Itulah yang tergambar dari kota yang lebih mirip kampung ini. Orang-orang kaya yang bahkan bisa membeli budak wanita berseliweran kesana-kemari, memilih dan memilah makanan atau bahan jenis apakah yang akan di beli.  Tangan ku dengan cekatan mengambil kamera yang menggelantung di leher ku, memotretnya sebentar, lalu pergi seolah tidak melakukan apapun.  Inilah pekerjaan ku, berpura-pura menjadi apapun untuk memperhatikan setiap gerak-gerik para penjajah. Akulah, Tan Malaka. 

Jejaring Malam Sunyi

Kaki ku melangkah dengan susahnya, melewati kolam lumpur lagi semak belukar. Deru nafas yang tak beraturan, angin malam dan suara serangga malam menjadi backsound di tengah hutan yang gelap. "Bertahanlah Munir... Kita akan segera sampai," ujar ku berkali-kali, meyakinkan Munir agar tidak menutup matanya.  Kain berwarna putih yang membebat perut teman ku itu sudah berganti warna menjadi merah padam. Rintihan sakit ku dengar dari belakang punggung ku, membuatku meringis dan mempercepat langkah kaki di antara lumpur dan lintah.  "Apa kita sudah sampai?" Tanya Munir dengar suara parau.  Aku menggeleng, "sebentar lagi, sebentar lagi kita akan sampai Munir."  Terdengar kekehan lemah di belakang, "berbenti saja kawan ku," ujarnya lemah.  Aku menggeleng keras, memantapkan kaki yang sudah minta diistirahatkan untuk berjalan lebih cepat. "Berhentilah, tinggalkan aku, tinggalkan aku di sini. Kau, selamatkan dirimu, larilah sebelum para bajingan itu kem...

Pistol di Rumah Bobrok

Mataku menerawang jauh ke setiap sudut tempat-tempat gelap. Menanti hal yang tak mungkin di nanti, topi hitam dengan logo gunung di tengah yang terpatri di atas kepala ku mempelopori gerakan rahasia yang tengah ku lakukan.  "Badan hidup, jiwa mati."  Itu adalah kata yang terus ku kumandangkan di dalam hati.  Mari maju bedebah sialan! Dor!  Terdengar suara tembakan yang begitu pelan dan kecil, seakan sengaja agar aku tidak bisa mendengar. Tapi sayang, telinga hasil persilangan bapak dan ibu ku ini sangat tajam, bahkan bisa mendengar suara tulang retak dari lawan yang hampir kehilangan kesadaran.  "Mati!" Teriak ku se-lantang guntur yang menyambar, sambil mengarahkan pistol ke salah satu tempat sempit di pojok rumah bobrok. Suara nyaring orang kesakitan terdengar tak lama kemudian, membuat hati yang sedari tadi mengikrarkan kalimat tak bermakna seakan kembali mendapatkan kehidupannya.  "Kita Merdeka Jiyanti, bedebah nista itu sudah habis di tangan ku. Mereka ...